Sunday , November 18 2018
Home / News / Bisnis Properti di Indonesia “Enggak Ada Matinya”…

Bisnis Properti di Indonesia “Enggak Ada Matinya”…

stockvault-charlotte138126

Bisnis dan industri properti mengenal siklus delapan tahunan. Namun, bisnis dan industri properti Indonesia tidak ada matinya.

Meskipun gejala pelemahan bisnis dan dinsutri properti terjadi sejak semester kedua 2013 dan berlanjut pada 2014, namun bangkit lagi tahun ini. Bahkan, pada tahun-tahun mendatang diprediksi lebih menjanjikan.

Menurut Managing Director Corporate Strategy and Services Sinarmas Land, Ishak Chandra, pada semester kedua 2013, pertumbuhan indeks (index growth) properti memang melemah. Saat itu terjadi stagnasi penjualan, pasca Bank Indonesia menerbitkan Surat Edaran (SE) No. 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013 terkait penyempurnaan ketentuan Loan to Value (LTV) atau Financing to Value (FTV) untuk kredit kepemilikan properti dan kredit konsumsi beragunan properti.

“Pelemahan terus berlanjut pada 2014. Penurunan terjadi pada 2014-2015 saat properti terutama residensial akan turun, karena LTV, suku bunga bank tinggi, dan Pemilihan Umum Legislatif dan Presidensial. Index growth  anjlok 30 persen hingga 40 persen. Tahun 2014 terjadi stagnasi,” kata Ishak saat pemaparan Sinarmas Property Outlook 2015, Selasa (17/2/2015).

Ishak mengatakan, yang anjlok adalah index growth, bukan pasar dan harganya. Pertumbuhan harga masih terjadi walaupun akselerasinya melambat.

Index growth  tahun 2011 mencapai seratus persen. Ini merupakan pencapaian terbaik. Sementara pada 2012 sekitar 70-80 persen dan pada 2013 mencapai 50 persen. Tahun lalu sekitar 30 persen. Namun, harga masih naik, meskipun pertumbuhannya tidak cepat,” sebut Ishak.

Kondisi mulai pulih pada semester 2014. Hal itu, kata Ishak, ditandai dengan tingkat penjualan yang membaik.

“Sinarmas Land mencatat penjualan yang lebih baik pada semester 2 tahun 2014. Tahun ini, masih terjadi penyesuaian terkait situasi politik, BI Rate yang masih 7,75 persen, dan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, semester kedua 2015 akan pulih kembali hingga akhirnya 2016 meningkat tajam,” tutur Ishak.

Anak usaha Sinarmas Land Group, PT Bumi Serpong Damai TBk (BSDE) saja berani menargetkan angka pra-penjualan demikian tinggi yakni Rp 7,5 triliun. Bahkan tahun ini akan melansir empat proyek baru sekaligus dengan total gross development value Rp 7,1 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan BSDE, Hermawan Wijaya, menyatakan optimistis tahun ini target pra-penjualan dapat tercapai. Demikian halnya dengan laba bersih yang akan digenjot 10 persen hingga 15 persen lebih tinggi dari pendapatan tahun 2014 sekitar Rp 5,5 triliun-Rp 5,7 triliun.

“Optimistis dapat tercapai. Karena Indonesia masih butuh rumah, termasuk kebutuhan sewa apartemen, pusat belanja, dan ruang komersial lainnya untuk usaha,” cetus Hermawan.

Ishak mengamini, konstelasi bisnis dan industri properti tahun ini akan lebih dinamis mengikuti tren global. Tren tersebut berupa akselerasi urbanisasi yang bergerak sangat cepat dan melahirkan pengembangan kota sekunder (secondary city development), pertumbuhan permintaan (rising development demand), pertumbuhan permintaan ruang komersial (rising commercial demand), pengembangan infrastruktur, dan lain sebagainya.

“Keterbatasan lahan yang terjadi di pusat kota akan melahirkan kota-kota baru dan kota mandiri, sehingga terjadi inetrkoneksi ekonomi,” lanjut Ishak.

Terlebih, lanjut dia, jika mengacu pada pertumbuhan populasi. Menurut dia, pertumbuhan middle affluent dengan kemampuan belanja Rp 2 juta hingga Rp 10 juta per bulan yang menurut Boston Consulting Group, bakal mencapai 141 juta pada 2020 nanti, Indonesia akan dibanjiri investor asing.

“Arus investasi yang masuk ke Indonesia akan banyak mengalir. Jangan heran nantinya banyak investasi baru di kawasan industri, banyak pabrik baru, hunian baru dan lain sebagainya. Karena pasar Indonesia luar biasa besar. Untuk tingkat ASEAN, Indonesia memegang 40 persen pasarnya,” imbuh Ishak.

Dengan segala potensi tersebut, lanjut Ishak, bisnis properti, terutama kawasan industri, perumahan tapak, ritel dan pusat belanja, masuk dalam spektrum akselerasi dan pemulihan dalam jam properti atau property clock.

Source: properti.kompas.com

About Amelia Bun

Check Also

Apa Itu Rusunami

Inilah Penjelasannya bagi Yang Belum Tahu Apa Itu Rusunami

Dengan munculnya istilah-istilah hunian untuk membedakan tujuan dan bentuknya, terkadang masyarakat masih saja kebingungan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *