Tuesday , July 16 2019
Home / News / PPh Rumah Mewah Dipangkas, Selanjutnya Apa?
PPh Rumah Mewah
PPh Rumah Mewah

PPh Rumah Mewah Dipangkas, Selanjutnya Apa?

Di real estate, deskripsi yang tepat dapat menarik pembeli ke rumah di pasar. Begitu juga dengan istilah rumah mewah. Dengan harganya yang fantastis, rumah mewah memiliki banyak ketentuan perpajakan yang harus dipenuhi pemiliknya. Tetapi Menteri Keuangan Sri Mulyani telah memotong PPh rumah mewah yang sebelumnya 5 persen menjadi 1 persen. Bagaimana hal ini akan mempengaruhi pasar properti ke depannya?

 

Apa Itu Rumah Mewah?

Rumah mewah didefinisikan sebagai sejenis properti yang dibangun dengan spesifikasi bangunan terbaik dan perabotan kelas atas, ditambah nilai jualnya yang merupakan lokasinya di lingkungan yang strategis. Rumah mewah juga biasanya memiliki luas di atas 300 m2.

Dilihat dari perkembangan saat ini di lapangan, biasanya rumah mewah memiliki harga di atas 1 milyar rupiah. Isi rumah mewah biasanya terdiri dari 1 kamar tidur utama, 3 kamar tidur anak, 1 atau lebih kamar tidur pembantu dan/atau sopir, dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga, 3 kamar mandi, garasi, dan halaman yang cukup luas. Dengan kapasitas ruangan yang banyak dan besar, rumah mewah dapat dihuni oleh sebuah keluarga besar.

Baca juga: Kenapa Apartemen Cosmo Park Bisa Viral?

 

PPh Rumah Mewah

 

Pemangkasan Pajak Penghasilan Rumah Mewah

Setelah membebaskan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali memangkas Pajak Penghasilan (PPh) rumah mewah dengan harga di atas Rp30 miliar dari 5 persen menjadi hanya 1 persen. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 92/PMK.03/2019 yang ditekan Sri Mulyani pada tanggal 19 Juni 2019 dan berlaku pada tanggal diundangkan tersebut.

Sebelumnya, pemerintah telah menaikkan batas harga minimal kelompok hunian mewah, seperti rumah mewah, apartemen, kondominium, town house dan sejenisnya yang bebas PPnBM. Nilai hunian mewah demikian yang terkena PPnBM adalah yang berharga Rp30 miliar atau lebih. Tarif PPnBM yang diberlakukan adalah sebesar 20 persen.

Keputusan ini dilakukan agar industri properti kelas atas bisa bertambah sehat dan berimbas kepada sektor bisnis lain yang terkait dengan properti. Selama ini banyak pengembang yang kesulitan untuk memasarkan rumah di segmen atas, bukannya karena minimnya daya beli, tetapi karena kondisi situasi politik yang masih belum stabil.

Untuk barang mewah lainnya seperti kapal dan yacht belum ada kebijakan pemangkasan serupa meski keduanya mempengaruhi sektor pariwisata.

 

Dampak Kebijakan Ini

Minat pencarian rumah mewah meningkat secara signifikan. Berdasarkan data Lamudi, dalam kurun waktu satu bulan Juni-Juli 2019, tren pencarian rumah dengan harga di atas Rp 10 miliar di kawasan mewah seperti Menteng, Kemang dan Pondok Indah meningkat 2 persen hingga 4 persen.

Peminat properti mewah sebenarnya banyak, hanya saja developer banyak memilih untuk berhati-hati dan tidak mengambil resiko. Produk yang dikeluarkan lebih menyasar kepada kelas menengah karena segmen ini tetap stabil dan tidak terpengaruh dengan situasi politik dan ekonomi.

Diharapkan dengan perubahan aturan ini, pengembang lebih percaya diri dan optimis untuk membangun produk properti di segmen atas yang sebenarnya dapat memberikan margin keuntungan yang cukup besar kepada developer.

Selain itu, ketentuan baru ini akan mempengaruhi potensi penerimaan pajak yang hilang dari negara, meskipun tidak akan terlalu besar.

Keputusan untuk mengurangi PPh rumah mewah tak lepas dari upaya pemerintah untuk menggunakan instrumen fiskal untuk mendukung dan responsif terhadap perekonomian di tengah dinamika ketidakpastian global.

Sumber: Tempo, CNN Indonesia, Arsitag, CNBC Indonesia

Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Semakin Meningkat

 

About Devi Yulia

My life revolves around reading books, writing stories, watching series and movies, and listening to music.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *