Sunday , June 25 2017
Home / Guide / Empat Siklus Properti Yang Wajib Diketahui Investor

Empat Siklus Properti Yang Wajib Diketahui Investor

Properti masih merupakan instrumen investasi yang dipilih masyarakat Indonesia karena prospek nya yang menjanjikan. Jika Anda tertarik untuk mencoba bisnis properti, ada beberapa hal yang harus diketahui lebih dalam, contohnya adalah kondisi dan kriteria pasar.

Berikut ini adalah empat siklus properti yang wajib diketahui seperti yang dikatakan oleh pengamat properti Panangian Simanungkalit. Menurutnya, setiap fase memiliki spesifikasi sendiri yang patut diamati untuk mengintip peluan investasi.

  1. Pasar Aktif (Active Market)
    Pada fase ini, biasanya terjadi peningkatan permintaan yang tidak disertai dengan peningkatan persediaan. Inilah yang membuat harga naik seiring dengan naiknya jumlah transaksi di pasar.Kondisi ini biasanya terjadi saat suku bunga dan tingkat inflasi berada di titik paling rendah. Meskipun harga terus naik, tingkat permintaan tetap tinggi. Fase ini disebut sebagai seller’s market, dimana pengembang dan penjual adalah raja. Karena kelebihan permintaan, bahkan rumah second bisa dijual dengan harga tinggi.
  2. Pasar Lembut (Soft Market)
    Fase ini terjadi saat transisi dari buyer’s market ke seller’s market. Dimulai ketika terjadi peningkatan permintaan, tetapi diimbangi dengan peningkatan persediaan juga. Ini yang membuat harga naik, tetapi jumlah transaksi berkurang karena banyaknya pilihan untuk calon pembeli.Fase ini biasanya disebut fase seimbang (market equilibrium) dimana umumnya terjadi setelah ekonomi meledak, tingkat inflasi mulai tinggi dan juga meningkatkan suku bunga.Dalam kondisi ini, stok rumah baru mulai berkurang dan rumah-rumah second mulai terjual. Harga rumah dan sewa mulai naik, kredit KPR dan kredit konstruksi mulai tersedia di pasar dengan bunga relatif rendah.
  3. Pasar Bebal (Dull Market)
    Di fase ini terjadi penurunan permintaan, tetapi tidak disertai penurunan persediaan. Karena itulah harga juga secara otomatis akan turun. Kondisi ini biasanya terjadi saat ekonomi mulai menuju resesi; pemerintah melakukan pengetatan moneter sementara suku bunga terus naik untuk menghindari inflasi.Fase ini terjadi ketika daya beli masyarakat menurun, padahal suplai masih tinggi. Di masa ini biasanya orang mulai menjual properti karena memerlukan dana. Karena itulah, pembeli yang akan menikmati keuntungan. Oleh karena itu fase ini disebut buyer’s market.

    Biasanya pada fase ini, konsumen berhenti mengajukan KPR dan kegiatan seluruh sektor bisnis juga menjadi lemah lesu.

  4. Pasar Lemah (Weak Market)
    Pada fase ini, terjadi penurunan permintaan, tetapi diimbangi dengan penurunan persediaan properti. Fase ini biasanya berlangsung setelah masa resesi ekonomi, dimana kondisi mulai normal dan menuju fase recovery (pemulihan).Siklus ini terjadi saat pasar dalam masa transisi dari pasar penjual ke pasar pembeli. Saat ini, terjadi keseimbangan kekuatan negosiasi antara penjual dan pembeli. Contohnya ketika pasar properti melambat akhir 2006 dan berlangsung hingga 2007.

    Saat ini, pembeli dan penjual mulai berhati-hati dalam melakukan transaksi. Pengembang pun banyak menawarkan potongan harga karena pembeli sudah kehilangan minat untuk melakukan transaksi.

Baca juga: Lima Hal Penting Sebelum Memutuskan Investasi Properti

Sumber: Kompas & Liputan6

 

 

About Fely Tan

i paint with words

Check Also

harga apartemen di tangerang selatan

Harga Apartemen di Tangerang Selatan Naik Pada Q2 2017

Harga Apartemen di Tangerang Selatan Property Index mencatat bahwa walaupun sempat turun 0,10% pada kuartal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *