Friday , May 29 2020
Home / News / Infrastruktur / Perkembangan Pembangunan MRT Jakarta

Perkembangan Pembangunan MRT Jakarta

Seperti yang telah kami tulis sebelumnya, pemerintah sedang membangun jalur-jalur Mass Rapid Transit (MRT) untuk mengurangi kemacetan. Saat ini jalur Selatan-Utara sedang dalam tahap pembangunan yang terbagi dari dua fase. Bagaimana perkembangan pembangunannya?

mrt jakarta

Perubahan Fase Kedua Rute Selatan-Utara

Fase pertama meliputi jalur Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI), sedangkan fase dua meliputi Bundaran HI-Ancol. Pada fase kedua, PT MRT Jakarta sedang dalam proses persiapan studi yang rencananya akan dilakukan pada awal 2017.

Fase kedua sedang dalam proses penunjukan konsultan untuk melakukan studi karena rencana awal hanya sampai ke Kampung Bandan, tetapi kemudian diteruskan sampai ke Ancol. Seperti yang dikatakan oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestami, permintaan ini muncul dari Gubernur DKI Jakarta yang ingin fase kedua dilanjutkan sampai ke Ancol, Jakarta Utara

Dengan adanya perubahan ini, panjang rute MRT Bundarah HI-Ancol panjangnya menjadi 13 kilometer dengan jumlah 12 stasiun.

Berikut ini adalah 13 stasiun yang dibangun pada fase pertama, terbagi atas 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah:

Stasiun layang:

  1. Lebak Bulus
  2. Fatmawati
  3. Cipete
  4. Haji Nawi
  5. Blok M
  6. Blok A
  7. Sisingamangaraja

Sementara 6 stasiun bawah tanah ada di:

  1. Senayan
  2. Istora
  3. Setiabudi
  4. Bendungan Hilir
  5. Dukuh Atas
  6. Bundaran HI

Perkembangan terowongan bawah tanah

Pembangunan terowongan jalur bawah tanah (tunnel) dari Senayan sampai Bundaran Hotel Indonesia (HI) sedang dalam tahap tunneling work (membangun terowongan) sepanjang 3.412,5 meter dan ditargetkan akan selesai pada akhir tahun 2016.

Dengan menggunakan empat mesin bor bawah tanah, dua mesin dioperasikan dari selatan ke utara, yaitu Patung Pemuda Senayan, sedangkan dua mesin lainnya dioperasikan dari arah utara (Bundaran HI) menuju arah selatan.

Mesin bor pertama (Antareja) yang digunakan sejak September 2015 telah berhasil membuat terowongan jalur MRT bawah tanah sampai ke Stasiun Istora sepanjang 934,5 meter. Mesin kedua, Antareja II yang digunakan sejak November 2015 telah berhasil membuat terowongan jalur MRT sampai Stasiun Istora sepanjang 930 meter.

Kedua mesin sedang digunakan untuk melanjutkan pekerjaan pengeboran dari Stasiun Istora sampai ke Stasiun Bendungan Hilir. Sampai 26 Juli, terowongan yang sudah terbangun sepanjang 342 meter oleh bor Antareja, sedangkan Antareja II membangun terowongan dari Stasiun Istora ke Bendungan Hilir sepanjang 82,5 meter.

Dua mesin lainnya, Mustikabumi I yang digunakan sejak Febuari 2016 telah membuat terowongan Stasiun Bundaran HI ke Dukuh Atas sepanjang 682,5 meter. Bor Mustikabumi II yang digunakan sejak April 2016 di lokasi sama telah menghasilkan terowongan 441 meter. Kedua bor ini digunakan ke arah Selatan yang menembus Stasiun Dukuh Atas dan berakhir di Stasiun Setiabudi.

Belum ditetapkan tarif

Pemprov DKI Jakarta sampai saat ini belum menetapkan tarif MRT Jakarta, tetapi direncanakan akan difinalisasikan paling lambat 3 bulan sebelum beroperasi. Dono Boestami mengatakan bahwa hitungan tersebut akan diberikan kepada Pemprov, dan belum bisa dipastikan karena belum selesai. “Bagi kami, gratis pun ngga masalah”, ujarnya.

Namun, Dono mengatakan bahwa bisa saja tarif gratis dicanangkan, tetapi subsidinya akan lebih besar. Ia mempertanyakan apakah adil jika pemerintah memberi subsidi besar untuk sistem semahal sistem tersebut, padahal bisa digunakan untuk sektor pendidikan, kesehatan, atau perumahan.

Dono juga mengatakan bahwa untuk menentukan tarif, harus melihat tujuan pembangunan MRT. Jika untuk mengurangi kendaraan pribadi di jalan, harga bisa ditetapkan tinggi. Dengan adanya fasilitas lengkap, seperti AC dan Wi-fi di pool MRT, maka harga tinggi bsia saja. Jika harga tinggi pun, pengguna kendaraan mewah juga akan tertarik menggunakan MRT karena tepat waktu, nyaman, dan aman.

Perlu diketahui bahwa pembangunan MRT menggunakan pinjaman dari Jepang yang 100% atas nama negara, sementara Pemprov DKI Jakarta hanya menanggung 51 persen dari pinjaman tersebut.

Sumber: Kompas Properti, jakartamrt.com

About Fely Tan

i paint with words

Check Also

Synthesis Residence Kemang

Pilihan Apartemen Mewah Baru di Kemang, Synthesis Residence Kemang

Bila Anda saat ini sedang mencari tahu soal hunian mewah di Kemang, apalagi yang termasuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *